Tanggal Posting

January 2012
M T W T F S S
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Aktifitas


Bunda

Anugerah Terindah Manusia


Bismillahi minal awwali wal akhiri

Ringkih dan renta, karena ditelan usia. Namun tampak tegar dan bahagia. Ikhlas, memancarkan selaksa cinta yang penuh makna, membias dari keriput di wajah. Tidak ada yang berubah sejak saat dalam buaian, hingga sekarang, mahkota putih yang anggun menghiasi kepalanya. Dekapannya tak berubah, luruh, memberikan kenyamanan dan kehangatan.

Jemari itu tak lagi lentik, namun fasih menyulam kata pinta padaNya, membaluri sekujur tubuh dengan do’a-do’a. Kakinya tampak payah, nyaris tak mampu menopang tubuh. Telapak kaki, tempat surga itu berada, pun penuh bekas darah bernanah, simbol perjuangan menapaki sulitnya kehidupan.

Ibunda,

Adakah kita terenyuh mengenangnya? Ia adalah anugerah terindah milik manusia. Sejak dalam rahim, betapa cinta itu tak putus-putusnya mengalirkan kasih yang tak bertepi. Hingga kerelaan, keikhlasan dan kesabarannya selama 9 bulan pun bagai menuai pahala seorang prajurit yang sedang berpuasa, namun tetap berperang di jalan Allah Subhaanahu wa Ta’ala.

Polesannya adalah warna dasar diri kita. Menggoreskan kanvas putih nan suci, apakah akan tercipta lukisan Yahudi, Musyrik atau Nasrani. Namun, goresan yang diselimuti untaian ayat suci Al Qur’an, zikir, tasbih serta tahmid, tentu akan melahirkan syakhsiyah Islamiyah (kepribadian Islam) pada jiwa. Ibunda pun berharap tercipta jundullah (tentara Allah) dari sebuah madrasah keluarga.

Selaksa cinta ibunda yang dibaluri tsaqofah Islamiyah (wawasan keislaman) telah menyemai banyak pahlawan Islam. Teladan Asma’ binti Abu Bakar Ash-Shidiq melahirkan pahlawan Abdullah bin Zubair, yang dengan cintanya masih berdoa agar dirinya tidak mati sebelum mengurus jenazah anaknya yang disalib Hajaj bin Yusuf, suruhan Bani Umaiyah. Polesan warna seorang ibunda, Al Khansa, melahirkan putra-putra kebanggaan Islam yang berani dan luhur akhlaqnya, hingga satu persatu syahid pada perang Qodisyiah. Di sela kesedihannya, ibunda masih berucap, “Alhamdulillah, Allah telah mengutamakan dan memberikan karunia padaku dengan kematian anak-anakku sebagai syuhada. Aku berharap semoga Allah mengumpulkan aku dengan mereka dalam rahmatNya kelak.”

Banyak. Sungguh teramat banyak cinta ibunda yang melahirkan kisah-kisah teladan. Yatim seorang anak pun tidaklah menghalangi ibunda untuk merangkai sejarah dengan tinta emas, terbukti dengan mekar harumnya para mujtahid Imam Abu Hanifah, Imam Syafi’i, Imam Ahmad bin Hambal serta Imam Bukhari. Didikan ibunda mereka telah mampu mendidiknya hingga menjadi anak-anak yang gemar menuntut ilmu tanpa kenal lelah, bahkan mandiri dalam kemiskinan.

Kita mungkin dilahirkan dari rahim seorang perempuan biasa. Bahkan kita pun tidak dilahirkan untuk menjadi seorang pahlawan. Namun, ibunda kita dan mereka adalah sama, sebuah anugerah terindah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Saat dewasa, saat telapak kaki telah kuat menjejak tanah dan tangan pun terkepal ke angkasa, masihkah selalu ingat ibunda? Cita-cita telah tergenggam di tangan, popularitas, kemewahan hingga dunia pun telah takluk menyerah kalah, tunduk karena ketekunan, jerih payah serta kerja keras tiada hentinya. Haruskah sombong dan angkuh hingga kata-kata menyakitkan begitu gampang terlontar?

Duhai ibunda,

Maafkan jika mata ini pernah sinis memandang, dan lidah yang pernah terucap kata makian hingga membuat luka hatimu. Maafkanlah pula kalau kesibukan menghalangi untaian do’a terhatur untukmu. Ampuni diri ananda yang tak pernah bisa membahagiakanmu, ibunda.

Sungguh, jiwa dan jasad ini ingin terbang ke angkasa, lalu luruh di pangkuanmu, mendekap tubuh sepuh, serta menangis di pangkuanmu. Hingga terhapuskan kerinduan dalam riak anak-anak sungai di ujung mata. Rengkuhlah ananda dengan belai kasih sayangmu bagai masa kecil dulu. Mengenangkan indahnya setiap detik dalam rahimmu dan hangatnya dekapanmu. Buailah dengan do’a-do’a hingga ananda pun lelap tertidur di sampingmu.

Duhai ibunda,

Keindahan dunia tak akan tergantikan dengan keindahan dirimu. Sorak-sorai pesona dunia pun tak dapat menggantikan gemuruh haru detak jantung saat engkau memelukku. Indah, semua begitu indah dalam alunan cintamu, menelisik lembut, membasahi lorong hati dan jiwa yang rindu kasih sayangmu.

Duhai ibunda…

Duhai jiwa manusia, sekiranya engkau sadar bahwa tanpa do’a ibunda, niscaya semua masih angan-angan belaka. Astaghfirullah, ampuni diri ini ya Allah. Bukakanlah pintu ridhomu, hingga Allah pun meridhoiku.

Wallahua’lam bi showab.

Abu Aufa (Tanpa sadar menitikkan airmata saat menulis tausyiah ini).


1 comment to Bunda

Leave a Reply

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>